Minggu, 19 Agustus 2012

Puisi Kemerdekaan

Bendera



Bendera kita mempunyai dua warna
Merah berarti keberanian
Putih berarti kesucian

Barangkali kita tak banyak yang tahu
Milik siapakah bendera merah putih itu?
Hanya untuk mempertahankannya
Pulau-pulau berserak

Laut-laut menggulung berarak
Waktu menguji dengan asap hitam menoda
Dan banyak jiwa melayang karenanya

Namun angka 17 bulan Agustus tetap menjadi keramat
Ketika saat itu semua angkara terungkap
Dan bendera merah putih berkibar di tiang yang tertinggi

Karya : Seprianto Sianipar

Merah Putih

Merah putih!
Dulu, sebelum kau berkibar di tiang tinggi
Dibelai, dipeluk angin merdeka,
Engakau hanya lambang harapku,

Meski kau mewakili bangsa tidak berdaya,
Tidak bernama di sejarah dunia,
Namun kau tersimpan dalam hatiku,
Lambang kasihku pada nusaku.

Merah putih!
Kini, kulihat kau terkibar di tengah bangsa
Lambang kebangsaanku di timur raya,
Engkau panji perjuanganku
Mengejar kemuliaan bagi bangsaku,

Dan demi tuhan pencipta bangsaku,
Selama masih bersiut nafas didada,
Denyut darahku penyiram medan
Ta’kan kembali kau masuk lipatan!

Hari Kemerdekaan

Akhirnya tak terlawan olehku
Tumpah dimataku, dimata sahabat-sahabatku
Ke hati kita semua
Bendera-bendera dan bendera-bendera
Bendera kebangsaanku
Aku menyerah kepada kebanggan lembut
Tergenggam satu hal dan kukenal

Tanah dimana kuberpijak berderak
Awan bertebaran saling memburu
Angin meniupkan kehangatan bertanah air
Semat getir yang menikam berkali
Makin samar
Mencapai puncak kepecahnya bunga api
Pecahnya kehidupan kegirangan

Menjelang subuh aku sendiri
Jauh dari tumpahan keriangan dilembah
Memandangi tepian laut
Tetapi aku menggengam yang lebih berharga
Dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
Makin bercahaya makin bercahaya
Dan fajar mulai kemerahan.

BANGGAKAH AKU

Banggakah aku pada negeriku
Yang sedang carut marut
Banggakah aku pada tanah airku
Yang sedang terpetak terjajah pada kerakusan
Banggakah aku pada bangsaku
Yang kian hari kian meluntur tergerus kepentingan pribadi

Mana warisanku dari perjuangan dulu
Yang katanya penuh darah air mata
Mengapakah menjadi bias sekedar nama

Tidak ada komentar: